Selasa, 08 Juni 2010

Berita terkini : SGRO

Sampoerna Agro sudah menggarap beberapa lahan hutan sagu. Lahan seluas 22.000 ha 

di Selat Panjang Riau menjadi proyek sagu pertama Sampoerna Agro.

Di atas lahan itu, telah tertanam sagu seluas 10.000 ha. Lahan sagu kedua Sampoerna terletak di Papua dengan luas 51.000 ha. Seluruh lahan itu telah tertanam sagu secara alami. Lalu lahan ketiga terletak  di Sambas Kalimantan Barat seluas 15.000 ha.

Perusahaan juga mengincar lahan seluas 6.000 ha di Lingga Riau.


Read More...

Rabu, 02 Juni 2010

Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia 2010 versi Majalah Globe Asia

VIVAnews - Majalah Globe Asia kembali menobatkan taipan Budi Hartono menjadi orang terkaya di Indonesia. Pemilik raksasa rokok Djarum dan Bank BCA ini memiliki kekayaan US$ 4,8 miliar atau sekitar Rp 44 triliun.

Peningkatan kekayaan Budi Hartono seiring dengan boomingnya harga saham dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tidak hanya Budi Hartono, 20 orang terkaya saat ini semuanya bangkit karena pulihnya pasar saham.

"Mengingat fakta bahwa kekayaan Indonesia terpaku pada sumber daya alam, sekarang ini menjadi waktu yang sangat menarik bagi pemilik usaha," kata Tanri Abeng, penerbit Globe Asia, Senin 31 Mei 2010. "Dan daftar 150 orang terkaya GlobeAsia membuktikan, kekayaan telah tercipta dengan cepat."

Total kekayaan 150 jutawan dalam daftar GlobeAsia pada tahun 2010 mencapai US$ 61,5 miliar atau Rp 570 triliun. Ini berarti meningkat 22 persen dibandingkan tahun 2009. Kenaikan nilai kekayaan itu terutama karena berbagai faktor, seperti penguatan nilai tukar rupiah, kenaikan indeks saham hingga 60 persen, dan kuatnya harga komoditas.

Berikut daftar nama 10 orang terkaya di Indonesia versi Globe Asia:

1 Budi Hartono US$ 4,8 miliar
2 Eka Tjipta Wijaya US$ 4 miliar
3 Anthony Salim US$ 3,6 miliar
4 Aburizal Bakrie US$ 3 miliar
5 Martua Sitorus US$ 2,5 miliar
6 Putra Sampoerna US$ 2,4 miliar
7 Sukanto Tanato US$ 1,8 miliar
8 Dato Low Tuck Kwong US$ 1,4 miliar
9 Peter Sondakh US$ 1,3 miliar
10 Eddy William Katuari US$ 1,3 miliar

Read More...

Kamis, 27 Mei 2010

InvestorSibuk - Bagaimana Meraih Profit Konsisten di Bursa Saham Hanya dengan 10 Menit Setiap Minggunya


Sesungguhnya banyak sekali instrumen untuk berinvestasi. Tapi ijinkan Saya membeberkan cara berinvestasi di bursa saham. Memang cara yang akan diajarkan tidaklah mudah, karena segala sesuatunya selalu butuh kerja keras di awal, tetapi akan membantu Anda mendapatkan passive income secara konsisten.

Banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat mengenai investasi di pasar modal. Beberapa mitos itu di antaranya ,"pasar modal seperti judi!", "Anda harus berada di depan layar komputer terus menerus!", "Pasar modal adalah cara untuk menjadi cepat kaya!", dan berbagai mitos "berbahaya" lainnya.

Yang perlu Anda perhatikan dalam berinvestasi sebenarnya adalah 'bagaimana Anda bisa melakukan kontrol terhadap psikologis Anda' dan menemukan karakteristik investasi Anda sendiri.

Banyak orang menyebut investasi saham dengan istilah "main saham". Ini artinya mereka menganggap saham adalah sebuah mainan sehingga kebanyakan orang tidak mau belajar terlebih dahulu, melainkan langsung masuk ke pasar dengan strategi "untung-untungan" atau "feeling so good". Mengapa demikian? Sekali lagi... itu semua terjadi karena kebanyakan orang menganggap bahwa saham adalah sebuah 'mainan'.

Tanpa ilmu yang cukup, berinvestasi di pasar modal hanya akan membuat Anda berdarah-darah dan menjadi kecewa. Akhirnya, Anda akan menyalahkan bahwa investasi di pasar modal penuh dengan penipuan dan sifatnya seperti judi. Padahal, pasar modal adalah sarana bagi perusahaan untuk mengumpulkan dana. Ini artinya, saham menunjukkan kinerja dari suatu perusahaan tersebut. Coba Anda pikirkan, mana ada sih perusahaan yang mau rugi? Jadi... dalam jangka panjang sebenarnya harga saham selalu mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan income dari perusahaan yang bersangkutan. Lalu, kenapa masih banyak orang mengalami kerugian dan malah ada yang bunuh diri segala ?

Banyak sekali hal-hal kontroversial di pasar modal, salah satunya adalah perbedaan antara investasi dan trading. Banyak orang tidak dapat membedakan kedua style dalam pasar modal ini. Beberapa orang yang tidak punya banyak waktu malah ada yang melakukan trading sesering mungkin dan beranggapan bahwa investasi di pasar modal harus 'memelototi' pasar secara terus menerus. Padahal... yang terjadi tidaklah demikian.

Demikian pendapat dari Saya mengenai dunia pasar modal... Jika Anda ingin mendapatkan informasi lebih banyak lagi, Anda bisa mendapatkannya secara Gratis dalam sebuah digital report dan audio Mp3 "5 Mitos Utama Investasi di Pasar Modal" karya teman saya Ferdie Darmawan, sebuah panduan untuk memulai investasi di pasar modal
Anda bisa mendapatkannya di sini :



investor sibuk

Read More...

Selasa, 27 April 2010

Investasi Saham di Pasar Modal adalah Judi ?

Pernahkah Anda mendengar orang berkata hal-hal di bawah ini ketika mendengar kata 'investasi', khususnya investasi di pasar modal ?

· Saya kehilangan setengah uang tabungan saya ketika pasar modal mengalami crash,
· Setiap kali saya membeli saham, saham tersebut turun,
· Lebih baik didepositokan saja karena lebih aman,
· Berinvestasi sangat beresiko, Anda dapat kehilangan seluruh modal Anda,
· Membeli saham seperti berjudi,
· Uang yang saya investasikan untuk anak saya sekolah akibat crash di bursa, hilang begitu saja !· Banyak orang bunuh diri karena gagal dalam berinvestasi di saham


Mitos-mitos ini lahir karena Anda selalu didoktrin dengan fakta-fakta dari bank atau ahli keuangan bahwa yang namanya high return pastilah high risk. Untuk memperoleh return yang tinggi, Anda harus menjadi seorang risk taker! Kebanyakan orang tidak suka mengambil resiko, makanya mereka sama sekali tidak mencoba menginvestasikan uangnya di pasar modal, karena takut akan resiko yang begitu besarnya.

Kebanyakan orang menjadi phobia terhadap pasar modal. Mereka percaya bahwa investasi itu terlalu beresiko dan lebih baik menyimpan uang di bank. Mereka lebih baik menerima return 4-5% saja dari deposito dibandingkan meraih puluhan hingga ratusan persen dari pasar modal.

Sayang sekali, karena orang-orang ini melewatkan salah satu dari cara-cara paling dahsyat dalam membangun kekayaan. Dengan tidak berinvestasi, uang anda akan tergerus inflasi.

Satu kabar gembira untuk anda : High return tidak harus high risk ! Apakah benar bahwa berinvestasi di bursa saham terlalu beresiko ? Jawabannya … TERGANTUNG.
Bisa ya, bisa juga tidak ! Mau tahu kenapa demikian ?

Jika Anda ingin mendapatkan jawabannya, Anda bisa download gratis digital report dan audio mp3 karangan teman Saya, Ferdie Darmawan secara GRATIS disini 


investor sibuk

Read More...

Selasa, 20 April 2010

Awal Mula Perjalanan Bisnis Chairul Tanjung

"KOK tiba-tiba Chairul punya usaha sebesar itu? Dia itu orangnya siapa, koneksinya siapa atau memutar duit siapa?” ujar Chairul Tanjung menirukan ucapan orang-orang yang terheran-heran dengan mengorbitnya dia sebagai pengusaha besar. Dan itu terjadi di tengah krisis yang menerpa Indonesia, 1998-1999, ketika banyak konglomeret lama terhempas. “Ada yang bilang saya memutar duit Cendana (mantan Presiden Soeharto). Ada juga yang bilang saya memutar duit Gus Dur (bekas Presiden Abdurrahman Wahid),” tambah Komisaris Utama Para Group itu.

Dilahirkan di Jakarta sebagai anak A.G. Tanjung, wartawan di zaman orde lama yang sempat menerbitkan lima sukar kabar beroplah kecil, Chairul dan keenam saudaranya tadinya hidup berkecukupan. Tiba di zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha persnya karena berseberangan secara politik dengan penguasa, hingga membuat hidup mereka dalam kekurangan. Keadaan ini memaksa orangtuanya melego rumah mereka dan berpindah tinggal di kamar losmen yang sempit. Tapi Chairul kecil tak kecil hati. “Saya bercita-cita jadi orang besar,” tekad sang Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.

Lepas SMA masuk Fakultas Kedokteran Gigi UI (1981), Chairul segera menghadapi kekurangan biaya kuliah. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat -- tapi bangkrut. “Bayangkan, jika sehari ada puluhan teman (mahasiswa) yang makan siang dan makan malamnya saya tanggung,” papar dokter gigi yang urung berpraktik ini.

Setelah menutup tokonya, MBA dari IPPM itu membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, ia pecah kongsi dengan ketiga rekannya – dan, hingga kini, Chairul memilih berjalan sendiri.

Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega -- yang kini telah terangkat dari bank papan bawah ke bank papan atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambahi bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta itu mempunyai perusahaan real estat dan pada 1999 telah meluncurkan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mulai meluncurkan Trans TV, di samping akan menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia bersiap masuk ke dunia media cetak.

Di tengah persaingan yang sengit di sektor televisi, Chairul tampaknya merasa yakin Trans TV-nya akan memanen keberhasilan. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun – 70% di antaranya akan diambil televisi. “Bagi Para Group, kami tak punya pilihan. Kami harus menjadi yang terbaik, dengan sangat mengedepankan profesionalisme” kata ayah satu anak hasil perkawinannya dengan drg Anita Ratnasari ini.

Chairul mengaku tak tahu jumlah perusahaannya. Yang jelas Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-holding. Yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti). Di sini dipekerjakan 5.000 orang.

Chairul, melalui konsersium pimpinan Bank Mega, gagal menguasai kepemilikan Bank BCA. Toh ia masih punya sejumlah pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Yakni menjadikan Trans TV menjadi televisi terbaik di Indonesia dalam masa tiga tahun ini. Menjadikan financial supermarket-nya the best servive provider bidang keuangan. Yang ketiga, menjadikan Bandung Supermall sebagai Central Business District – yang dari 11 hektar lahan totalnya baru terpakai tiga hektar saja. Di atas sisa 5 hektar itu, kata Chairul, “Kami akan membangun hotel, gedung perkantoran, dan sebagainya.”

Jelas Chairul Tanjung pengusaha yang berhasil. Namun ia mengaku tak bernafsu memamerkan kesuksesannya. Meski sudah empat tahun lebih memakai BMW seri 7, ia masih belum ingin membeli mobil baru yang lebih mewah. Ia juga masih tinggal di Komplek Deplu, dekat Bintaro, Tangerang, Jawa Barat.

Read More...
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template