Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 April 2010

Awal Mula Perjalanan Bisnis Chairul Tanjung

"KOK tiba-tiba Chairul punya usaha sebesar itu? Dia itu orangnya siapa, koneksinya siapa atau memutar duit siapa?” ujar Chairul Tanjung menirukan ucapan orang-orang yang terheran-heran dengan mengorbitnya dia sebagai pengusaha besar. Dan itu terjadi di tengah krisis yang menerpa Indonesia, 1998-1999, ketika banyak konglomeret lama terhempas. “Ada yang bilang saya memutar duit Cendana (mantan Presiden Soeharto). Ada juga yang bilang saya memutar duit Gus Dur (bekas Presiden Abdurrahman Wahid),” tambah Komisaris Utama Para Group itu.

Dilahirkan di Jakarta sebagai anak A.G. Tanjung, wartawan di zaman orde lama yang sempat menerbitkan lima sukar kabar beroplah kecil, Chairul dan keenam saudaranya tadinya hidup berkecukupan. Tiba di zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha persnya karena berseberangan secara politik dengan penguasa, hingga membuat hidup mereka dalam kekurangan. Keadaan ini memaksa orangtuanya melego rumah mereka dan berpindah tinggal di kamar losmen yang sempit. Tapi Chairul kecil tak kecil hati. “Saya bercita-cita jadi orang besar,” tekad sang Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.

Lepas SMA masuk Fakultas Kedokteran Gigi UI (1981), Chairul segera menghadapi kekurangan biaya kuliah. Ia pun mulai berbisnis dari dasar sekali, berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Selanjutnya, ia membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat -- tapi bangkrut. “Bayangkan, jika sehari ada puluhan teman (mahasiswa) yang makan siang dan makan malamnya saya tanggung,” papar dokter gigi yang urung berpraktik ini.

Setelah menutup tokonya, MBA dari IPPM itu membuka usaha kontraktor. Kurang berhasil, Chairul bekerja di industri baja dan kemudian pindah ke industri rotan. Waktu itulah, ia bersama tiga rekannya membangun PT Pariarti Shindutama. Bermodal awal Rp 150 juta dari Bank Exim, mereka memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor. Keberuntungan berpihak padanya, karena perusahaannya langsung mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. Dari sini usahanya merambah ke industri genting, sandal dan properti. Sayang, karena perbedaan visi tentang ekspansi usaha, ia pecah kongsi dengan ketiga rekannya – dan, hingga kini, Chairul memilih berjalan sendiri.

Mengarahkan usahanya ke konglomerasi, Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti: keuangan, properti, dan multi media. Di bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega -- yang kini telah terangkat dari bank papan bawah ke bank papan atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia juga merambahi bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran Jakarta itu mempunyai perusahaan real estat dan pada 1999 telah meluncurkan Bandung Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mulai meluncurkan Trans TV, di samping akan menangani stasion radio dan media on line atau satelit. Ia bersiap masuk ke dunia media cetak.

Di tengah persaingan yang sengit di sektor televisi, Chairul tampaknya merasa yakin Trans TV-nya akan memanen keberhasilan. Ini karena ia melihat pada belanja iklan nasional yang sudah mencapai Rp 6 triliun setahun – 70% di antaranya akan diambil televisi. “Bagi Para Group, kami tak punya pilihan. Kami harus menjadi yang terbaik, dengan sangat mengedepankan profesionalisme” kata ayah satu anak hasil perkawinannya dengan drg Anita Ratnasari ini.

Chairul mengaku tak tahu jumlah perusahaannya. Yang jelas Para Group mempunyai Para Inti Holdindo sebagai father holding company, yang membawahkan beberapa sub-holding. Yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo (media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti). Di sini dipekerjakan 5.000 orang.

Chairul, melalui konsersium pimpinan Bank Mega, gagal menguasai kepemilikan Bank BCA. Toh ia masih punya sejumlah pekerjaan rumah yang harus ia selesaikan. Yakni menjadikan Trans TV menjadi televisi terbaik di Indonesia dalam masa tiga tahun ini. Menjadikan financial supermarket-nya the best servive provider bidang keuangan. Yang ketiga, menjadikan Bandung Supermall sebagai Central Business District – yang dari 11 hektar lahan totalnya baru terpakai tiga hektar saja. Di atas sisa 5 hektar itu, kata Chairul, “Kami akan membangun hotel, gedung perkantoran, dan sebagainya.”

Jelas Chairul Tanjung pengusaha yang berhasil. Namun ia mengaku tak bernafsu memamerkan kesuksesannya. Meski sudah empat tahun lebih memakai BMW seri 7, ia masih belum ingin membeli mobil baru yang lebih mewah. Ia juga masih tinggal di Komplek Deplu, dekat Bintaro, Tangerang, Jawa Barat.

Read More...

Kamis, 27 November 2008

Berinvestasi Ala Buffet

Siapa yang tidak kenal dengan Warren Buffett ? Ia adalah orang terkaya didunia. Siapa pula yang tidak terinspirasi olehnya? Kesuksesannya berasal dari kesetiaannya terhada dasar-dasar investasi nilai yang terbukti sangat ampuh tanpa mengindahkan pandangan populer yang berlaku umum. Bagi Anda yang tertarik dengan investasi saham daningin mengikuti jejak Buffett, berikut kami sajikan 11 strategi investasi nilai dari total 24 strategi yang selama ini dipegang teguh oleh Buffett….

  1. Pilihlah yang sederhana, bukan yang kompleks
    Pada saat berinvestasi, pilihlah saham dari perusahaan yang Anda pahami. Lakukan hal-hal yang mudah dan jelas. Saran Buffett : tidak perlu mencari jawaban yang rumit untuk masalah yang sudah rumit.
  2. Putuskan sendiri investasi Anda
    Jangan dengarkan para pialang, analis, atau ahli. Temukan sendiri cara investasi Anda. Tutup telinga Anda saat berada di pasar saham, karena orang-orang yang disebut ahli ini berbicara demi keuntungan yang akan mereka raih tanpa memedulikan keuntungan Anda.
  3. Pertahankan temperamen yang tepat.
    Biar saja orang-orang bertindak berlebihan dalam merespons pasar. Mereka tidak berpikir jernih, oleh sebabitu jangat buat kesalahan yang sama. Berpikirlah jernih dan Anda yang akan memperoleh keuntungan.
  4. Bersabarlah
    Berpikirlah untuk 10 tahun mendatang dan bukan untuk 10 menit ke depan. Jika Anda tidak merasa siap memegang saham tertentu selama satu dekade, lebih baik jangan pernah membeli saham tersebut.
  5. Belilah bisnis, bukan saham
    Jika Anda telah mendapatkan bisnis yang tepat, biarkan saja orang lain mengkhawatirkan pasar modal. Anda tidak perlu menghiraukan mereka. Biarkan godaan berlalu hanya untuk melihat kesetiaan Anda pada bisnis tertentu.
  6. Carilah perusahaan yang berkualitas franchise
    Menurut Buffett, ada sejumlah bisnis yang mempunyai kualitas franchise. Bisnis franchise itu seperti bangunan yang dikelilingi benteng yang tinggi dan parit yang dalam. Bisnis semacam ini tidak terkalahkan. Bisnis semacam inilah yang ingin Anda temukan.
  7. Beli perusahaan low-tech, bukan high tech.
    Warren Buffet membeli perusahaan Bata, perusahaan cat, perusahaan karpet, beberapa perusahaan meubel, dan perusahaan pakaian dalam. Buffet senang memiliki bisnis semacam itu karena mudah dimengerti, stabil dan mempunyai arus kas yang mudah diprediksi.
  8. Terapkan ketidaktifan, bukan hiperaktivitas
    Buffett menghindari hal yang dia sebut hiperaktivitas.Tidak bertindak adalah tindakan yang cerdas jika Anda sudah memiliki saham yang bagus. Jangan bertransaksi hanya untuk tujuan transaksi. Transaksi tinggi adalah karakteristik inverstor yang hiperaktif, dan mereka cenderung mengalami lebih banyak kerugian daripada mendapat keuntungan.
  9. LIhatlah penurunan pasar sebagai peluang untuk membeli.
    Penurunan pasar bukanlah suatu pukulan, tetapi merupakan sebuah peluang membeli.Jika kebanyakan orang malahlari meninggalkan saham yangbagus, maka Anda harus berlari untuk mendapatkannya.
  10. Abaikan yang makro; fokuslah pada yang mikro.
    Menurut Warren Buffett, hal-hal besar-tren-tren besar yang ada diluar bisnis, tidaklah penting. Hal-hal kecil-lah, yang terkait khusus dengan bisnis, yang diperhitungkan.

Itulah strategi investasi Buffett; sederhana, cerdas, dan di luar kelaziman yang berlaku di pasar saham. Anda terinspirasi?

Disarikan dari Buku Investasi Ala Warren Buffet


Read More...
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template