Selasa, 16 Desember 2008

hari Ini Indeks Terkoreksi 1,2%

Bursa Indonesia ditutup terkoreksi 1,2% setelah sempat naik tajam 96 poin kemarin. Merosotnya IHSG mengikuti pergerakan bursa regional yang mayoritas ditutup di teritori negatif seperti Topix (-2,16%), Singapore Strait Times(-0,20%), dan Nikkei (-1,12%). Jatuhnya bursa regional dipicu oleh kecemasan para investor terhadap resesi global yang akan menghambat pertumbuhan perekonomian. Sementara harga minyak stabil di level $44/barrel, bahkan sempat menyentuh US$50/barrel kemarin dibalik antisipasi para investor terhadap rapat OPEC yang akan digelar di Algeria besok.

IHSG ditutup melemah 16,4 poin ke level 1.342,86 dengan nilai transaksi mencapai Rp1,9 trilliun. Lonjakan IHSG kemarin menembus level psikologis 1.300 mendorong para investor untuk melakukan aksi profit taking pada beberapa saham unggulan seperti AALI (-3,58%), BUMI (-3,06%), dan PGAS (-5,37%). Selama intraday indeks tak pernah menembus zona positif, praktis sampai penutupan sesi kedua hanya ada 3 sektor yang ditutup menguat yaitu industri dasar, konsumen , dan manufaktur. Turunnya harga premium dan solar yang menjadi katalis penguatan indeks kemarin masih berpotensi turun menurut Sri Mulyani di Gedung DPR, Senayan, hari ini.

Untuk perdagangan besok indeks diestimasikan akan rebound seiring kebijakan the Fed mengumumkan interest rate paling lambat malam ini dan pernyataan gubernur Bank Sentral China yang mengindikasikan akan memangkas suku bunga acuannya bulan ini. Indeks Dow Future berada di level 8.600 (+0,22%).

Read More...

Minggu, 14 Desember 2008

Sinar Mas Sekuritas Kantongi 6,2% Saham BTEL

JAKARTA. Kabar bahwa Sinar Mas Group akan membeli saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sudah lama beredar. Konon, pembelian tersebut bertujuan membesarkan bisnis PT Smart Telecom, anak usaha Grup Sinar Mas di bisnis halo-halo.

Kendati Sinar Mas dan BTEL membantahnya, bukan berarti kabar tersebut langsung mereda. Justru sebaliknya, anggapan tersebut makin mengental.

Dalam keterbukaan informasi kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 12 Desember 2008, BTEL menyatakan bahwa salah satu anak usaha Sinar Mas, PT Sinarmas Sekuritas, telah memiliki saham BTEL. Hingga 28 November 2008, Sinarmas Sekuritas, telah memiliki 6,2% saham BTEL atau sama dengan 1,76 miliar saham.

Jika mengacu harga BTEL pada tanggal 11 Desember 2008 yang Rp 51 per saham, artinya nilai saham BTEL di kantong Sinar Mas Sekuritas mencapai sekitar Rp 91,8 miliar.

Bisa jadi, ketika membelinya, anak usaha PT Sinarmas Multiartha Tbk ini membayar lebih besar lagi. Sebab, harga BTEL pada November 2008 berkisar antara Rp 66-Rp 150 per saham.

Masuknya Sinarmas Sekuritas ini mengubah komposisi kepemilikan saham BTEL. Per 28 November, pemilik saham BTEL di atas 5% adalah PT bakrie& Brothers Tbk (22,43%), Credit Suisse Cabang Singapura (8,08%), Sinarmas Sekuritas (6,2%) dan sisanya milik publik.

Direktur Utama PT Sinarmas Sekuritas Kokaryadi Chandra membenarkan perusahaannya memiliki 6,2% saham BTEL. Ia membantah saham tersebut pesanan Sinar Mas Grup. "Bukan, itu saham nasabah," tandasnya, kemarin kepada KONTAN. Namun, ia enggan menjelaskan siapa nasabah yang membeli saham BTEL tersebut.

Ubaidillah Fatah, Direktur PT Smart Telecom juga membantah Sinar Mas membeli BTEL. "Sampai saat ini tidak ada pembicaraan tentang kabar itu," paparnya.

Namun, Ubaidillah tidak menampik bahwa perusahaannya termasuk berminat membeli tower BTEL. "Ada keinginan, namun saya tidak tahu rencana berikutnya," tegasnya.

Catatan saja, saat ini BTEL berencana menjual 543 menara telekomunikasinya. Total harga menara itu minimal sekitar Rp 380,22 miliar.

Abdul Wahid Fauzi KONTAN

Read More...

Minggu, 07 Desember 2008

Jenis Investasi

Ada banyak jenis-jenis instrumen investasi yang ada di pasar. Untuk memilih investasi yang paling cocok bagi Anda, Anda harus mengenal karakter masing-masing instrumen itu.

Secara umum, obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah. Ketika membeli obligasi, Anda meminjamkan uang kepada penerbit obligasi.

Imbalannya, penerbit akan memberikan bunga atas uang Anda tadi, dan pada akhirnya mengembalikan semua uang yang Anda pinjamkan. Faktor bunga yang dibayarkan secara tetap (tiap 3 bulan-6 bulan) itulah yang membuat obligasi masuk grup investasi berpendapatan tetap.

Daya tarik obligasi adalah ia relatif aman. Bahkan, jika membeli obligasi terbitan pemerintah - di Indonesia disebut Surat Utang Negara (SUN) atau Obligasi Negara Ritel (ORI) - investasi Anda dijamin oleh pemerintah. Dus, investasi Anda nyaris bebas risiko (risk-free).

Tapi, keamanan itu ada biayanya. Karena risikonya rendah, potensi keuntungan obligasi juga tidak terlalu tinggi. Umumnya, tingkat keuntungan obligasi lebih rendah dibandingkan instrumen lainnya.

Ketika Anda membeli saham suatu perusahaan, Anda ikut menjadi pemilik perusahaan itu. Karenanya, Anda juga memilik hak suara dalam rapat pemegang saham. Selain itu, Anda juga berhak menerima keuntungan yang dialokasikan perusahaan untuk pemegang saham. Inilah yang disebut sebagai dividen.

Jika obligasi memberikan arus pendapatan yang rutin, keuntungan saham sangat fluktuatif. Perlu dicatat, jika membeli saham, Anda tidak memperoleh jaminan apa pun. Bahkan, kadang kala saham pun tidak membagikan dividen. Dalam kasus ini, Anda hanya bisa berharap memperoleh keuntungan (capital gain) dari kenaikan harga saham yang Anda beli. Tapi, kenaikan harga saham ini juga tidak selalu terjadi.

Yang menarik, saham memberikan keuntungan yang relatif lebih tinggi dibanding dengan obligasi. Tapi, tentu saja ada risikonya: seluruh investasi Anda bisa hilang.

Pastinya, Anda harus mengetahui lebih dulu tentang�instrumen investasi obligasi dan saham. Intinya, obligasi memberikan arus pendapatan yang rutin dan tetap berupa bunga. Selain itu, instrumen obligasi juga relatif aman, apalagi jika penerbit obligasi itu adalah pemerintah. Cuma, keuntungan obligasi relatif rendah dibandingkan instrumen investasi lainnya.

Selain obligasi dan saham, investor juga bisa membiakkan duitnya di reksadana. Instrumen investasi ini menawarkan banyak kelebihan. Selain modal awal yang dibutuhkan tak terlalu besar, investor juga tak perlu meluangkan banyak waktu untuk memelototi investasi. Sudah begitu, Anda juga tak harus berpengalaman. Jika reksadana mengecewakan, Anda juga bisa menjajal instrumen-instrumen investasi alternatif.

Sementara, ketika membeli saham, Anda menjadi salah pemilik perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Keuntungan saham bisa berupa pembagian keuntungan atau dividen dan kenaikan harga saham tersebut. Jika dibandingkan dengan obligasi, keuntungan saham ini relatif lebih tinggi. Tapi, risikonya, keuntungan saham ini bisa berfluktuasi tiap hari. Selain itu, modal investasi awal Anda juga bisa tergerus habis.

Reksadana adalah kumpulan saham, obligasi, atau instrumen-instrumen lainnya. Ketika Anda membeli reksadana, Anda mengumpulkan uang Anda bersama-sama dengan investor-investor lainnya. Lantas, sebagai sebuah kelompok Anda dan investor lainnya membayar manajer investasi untuk mengelola kumpulan dana itu. Berdasarkan fokus investasinya, reksadana itu ada banyak jenisnya. Ada reksadana saham, obligasi, campuran, pasar uang, terproteksi, dan reksadana indeks.

Kelebihan reksadana adalah bahwa Anda bisa menginvestasikan uang Anda tanpa harus meluangkan waktu atau berpengalaman terlebih dahulu. Secara teoritis, keuntungan investasi Anda pasti akan lebih tinggi jika Anda menyerahkannya kepada profesional ketimbang jika Anda menginvestasikannya sendiri.

Instrumen alternatif

Selain tiga instrument utama itu, ada juga instrumen-instrumen alternatif, seperti opsi, kontrak berjangka, valuta asing (valas), emas, properti, dan masih banyak lagi. Tapi, jika Anda sedang mulai untuk berinvestasi, tak perlu terlalu pusing memikirkan investasi-investasi alternatif itu. Sebab, meskipun memberikan keuntungan tinggi, investasi-investasi itu biasanya memiliki risiko yang sangat tinggi. Hanya properti dan emas yang risikonya relatif rendah. Selain itu, sebelum nyemplung ke instrumen-instrumen itu, Anda juga harus memiliki ilmu yang memadai terlebih dahulu. Jadi, jangan coba-coba cari masalah kalau belum siap.

Sumber : Kontan




Read More...

Senin, 01 Desember 2008

Another Big Correction on Dow Jones

Bursa Indonesia sendiri telah memulai trend bearish jangka pendek setelah kemarin mengkonfirmasikan reversal pada indikator Stochastic. Besarnya sentimen negatif dari bursa US dan regional pagi ini akan menjadi alasan kuat investor untuk melakukan profit taking pada beberapa saham yang masih berada di area level Overbought seperti Banking, Telco’s dan Coal player. Indeks diperkirakan akan kembali melemah menembus level 1200 dengan rentang perdagangan hari ini berada pada kisaran 1170 – 1230. (etrading)

Read More...

Tips Bermain Saham Saat Resesi


Saat resesi seperti sekarang ini situasi pasar sulit ditebak kemana arahnya. Ada baiknya kita mulai mengganti strategi investasi/trading. Pola permainan pasar sudah berbeda dibanding setahun yang lalu. Kalo dulu di saat pasar bulish (naik) saham bergerak terus naik dan naik lagi. Kali ini jelas beda. Berikut ini beberapa tips bermain saham saat resesi, moga bermanfaat:


  1. Harga saham sekarang sudah murah, tapi kemungkinan masih ada yang lebih murahjadi akumulasi sedikit-sedikit.
  2. Kalo membeli jangan ragu antri paling bawah dari harga closing 7-10% boleh masuk, jika dapat, take profit sekitar 3-5%. (Jika bisa untung satu hari kenapa tidak)
  3. Mau aman, pilih BUMN.
  4. Kondisi Resesi seperti sekarang ini dapat membawa market kepada ‘long term bearish’ (penurunan jangka panjang), jadi kalo ada untung jangan segan-segan take profit-lalu tunggu waktu utk beli kembali.
  5. Rumor dan berita baik tidak banyak pengaruhnya jika pasar sedang turun brutal. Tapi boleh dicermati, sebab apabila terjadi rebound (mantul ke atas) maka saham yang lagi dilanda rumor/good news naik lebih tinggi.
  6. Mulai cari/pelajari saham unggulan (Bluechips) berfundamental baik dan cermati harga murahnya sampai di mana, lakukan pembelian sedikit demi sedikit. Jika sinar terang mulai muncul di ujung terowongan gelap resesi ini maka itulah masa rally atau long term bullish dan coba tebak saham apa yang terus naik dan naik lagi.
  7. Khusus penggemar gorengan. Jika tetap mau beli, maka carilah saham gorengan yang likuid (sebelum resesi) yang sudah jatuh paling brutal. Beli sedikit-sedikit (harganya udah murah abiss). Perhatian, batasi dananya 15-20% dari total investasi. Laennya main bluechips!
  8. Last thing: Be confident in your trading! (Jangan sekedar ikut-ikutan orang lain)

By Volmer Simanjuntak

Read More...
Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template